Artikel

Pro Kontra Teknopolis Gedebage

DIFA-25Gedebage, daerah di bagian Bandung Timur akan disulap menjadi kota futuristik. Pembangunan kawasan ini dinilai karena Bandung membutuhkan pusat kota kedua yang dapat menampung penduduk sekaligus sebagai pusat inovasi industri digital. Pengembangannya direncanakan terintegrasi dengan transportasi memadai, yang dalam perencanaannya tidak hanya terdapat perumahan, perkantoran, pemerintahan, namun juga adanya rencana pembangunan pusat industri dan inovasi berbasis teknologi komunikasi dan informasi yang dikenal dengan kawasan Teknopolis.

Teknopolis memang bukan konsep baru, Konsep Bandung Teknopolis ini terinspirasi dari Silicon Valley yang berada di San Francisco, California, Amerika Serikat. Konsep Teknopolis juga telah berkembang di beberapa negara seperti Akademegorodok di Rusia dan Tsukuba di Jepang. Selain sebagai pusat teknologi, Teknopolis juga jadi jembatan interaksi antara institusi riset yang mengembangkan sains dan teknologi, dengan pihak industri yang menjadi kapital, dan pemerintah dalam tata kelola dan regulasi, sehingga melahirkan inovasi.

Sekitar 17 hektar lahan disiapkan untuk pembangunan Teknpolis. Sebagian besar lahan dimiliki oleh sebuah perusahaan pengembang besar, sisanya dimiliki oleh Pemprov Jawa Barat, Pertamina, dan stakeholder lain. Total ada 8 stakeholder dalam sebuah dalam kawasan teknopolis ini. Walaupun begitu, perusahaan pengembang ini juga sudah memiliki lahan di sekitar kawasan yang rencananya akan dibangun teknopolis, termasuk lahan yang awalnya dimiliki oleh warga Gedebage untuk bercocok tanam dan lahan yang menjadi habitat burung Blekok.

Siapa yang Diuntungkan?

Jika dilihat, tanpa adanya rencana pembangunan Teknopolis, pembangunan di Gedebage akan berlangsung dengan sendirinya. Wilayah Bandung Utara yang sudah padat tidak mungkin menampung penduduk dengan segala aktivitasnya. Tidak heran ketika pengembang besar mulai melirik daerah lain seperti Gedebage untuk membangun kawasan permukiman dan perkantoran.

Di satu sisi, rencana Teknopolis dapat mengontrol masifnya pembangunan infrastruktur yang dilakukan oleh pengembang. Perlu diketahui bahwa Bandung hanya memiliki 11% Ruang Terbuka Hijau (RTH). Padahal menurut Undang-Undang Penataan Ruang luas minimal RTH adalah 30%, artinya Kota Bandung masih kekurangan RTH sebesar sekitar 19%. Selain kurangnya RTH, Wilayah Kota Bandung yang berada di Cekungan Bandung merupakan wilayah yang rawan banjir karena alih fungsi lahan hijau. Kawasan Gedebage juga merupakan kawasan tempat parkir air, sehingga mudah terjadi banjir. Belum lagi fakta bahwa kawasan di bagian selatan Gedebage adalah tempat habitat burung Blekok

Rencana Teknopolis juga memanfaatkan lahan tidak hanya untuk permukiman, tetapi menjadi pusat inovasi digital, sehingga dapat mendukung perusahaan startup  yang didominasi oleh anak muda dan lahan dapat digunakan dengan lebih produktif. Teknopolis tidak hanya dapat mengontrol pembangunan di Gedebage dengan menyediakan RTH, tetapi juga memanfaatkan lahan secara optimal

Di sisi lain, rencana ini juga menguntungkan pihak pengembang. Pembangunan infrastruktur yang  dan hadirnya pusat inovasi dapat menarik minat masyarakat untuk tinggal. Tanpa perlu strategi marketing yang hebat, masyarakat berbondong untuk menempaiti klaster-klaster yang dibangun oleh pengembang. Transportasi memadai, dekat dengan tempat bekerja, fasilitas menunjang, gedung pemerintahan yang renacanya dibangun juga tidak jauh, dan  jalan yang menghubungkan kota primer dan kota besar lainnya mudah diakses.

Akan tetapi, siapa yang akan menempati kota futristik ini? Tentunya lahan di Gedebage akan menjadi mahal. Siapakah yang akan membeli klaster yang dibangun pengembang? Siapakah yang akan menempati gedung perkantoran?

Siapa yang Tersingkirkan?

Para anak muda yang mengembangkan industri digital tidak berasal dari Gedebage. Sebagian berasal dari Bandung Utara atau Jakarta. Mereka yang akan menempati perumahan dan apartemen adalah masyarakat kelas menengah atas yang berasal dari luar Gedebage.

Warga Gedebage sebagian bercocok tanam, mempunyai usaha logam bubut, usaha pabrik skala menengah dan besar, atau bekerja di daerah lain. Sebagian warga Gedebage yang bercocok tanam sudah menjual lahannya ke pengembang. Menyusul masyarakat di sekitar kawasan teknopolis lainnya ketika menyadari lahannya menjadi lebih mahal.  Padahal lahan cocok tanam yang digarap oleh warga Gedebage ini penting karena dapat menjadi lahan parkir air dan serapan.

Di Gedebage juga ada berbagai macam pabrik skala  menengah dan besar. Terdapat puluhan bengkel logam yang bernaung di bawah Lingkungan Industri Kecil (LIK) yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Aktivitas ini merupakan usaha berbasis teknologi, namun nampaknya tidak selaras dengan Teknopolis yang mengutamakan usaha teknologi informasi digital.

Puluhan bengkel ini mampu melayani berbagai macam keperluan, dari pesanan skala kecil dan hingga mesin-mesin produksi yang membutuhkan presisi tinggi. Teknologi yang dipakai beragam, dari teknologi sederhana sampai teknologi tinggi yang lebih presisi. Sayangnya, kawasan LIK masih kurang diperhatikan. Jalan di sekitar kawasan LIK sering rusak akibat banjir yang datang hampir setiap musim hujan.

Kawasan Teknopolis memang cukup menguntungkan pelaku industri digital yang jelas butuh dukungan untuk bersaing di kancah global. Namun, warga Gedebage yang sudah bertahun-tahun hidup dan memiliki usaha di sana juga perlu diperhatikan. Jangan sampai mereka merasa tersingkirkan, atau bahkan kehilangan lahan. Perlu ada keselarasan antara industri digital yang akan menempati ruang perkantoran dengan industri logam yang sudah berdiri. Selain itu, perlu juga ada keselarasan antara infrastruktur dan lingkungan yang menjadi habitat makhluk hidup lainnya. Tidak perlu jauh bicara burung Blekok ketika manusia dapat tersingkirkan dengan mudah.