Artikel

Menemukan Eksistensi Diri Melalui Tulisan

oleh Yulita Hanifah

hanifahBuku pertama yang saya baca adalah buku ensklopedia anak-anak dan dongeng-dongeng di dunia. Sejauh yang saya ingat, saya menyukai gambar-gambarnya pada saat itu dan naluri seorang anak pada masa-masa pada saat itu yang sering mempertanyakan eksistensi “dunia” membuat saya mencarinya dalam buku ensiklopedia dan dongeng. Hal ini juga dikarenakan faktor kedua orang tua saya seorang yang agak sulit meluangkan waktunya untuk menjelaskan hal-hal tersebut. Sehingga, kedua orang saya lebih memilih menyediakan ruang dan fasilitas bagi saya untuk membaca dan mencari sendiri melalui buku.

Pada saat saya kelas 5 SD, kira-kira, buku di dalam lemari sudah habis saya baca, berulang. Lalu tante saya memberi buku fiksi pertama yang gambarnya lebih sedikit, yaitu Matilda. Matilda merupakan buku pertama dan favorit, bahkan sampai saat ini, telah banyak menginspirasi saya untuk membaca dan belajar tentang dunia. Seorang anak kecil dalam buku tersebut mengajarkan saya betapa membaca itu sangat mengasyikan. Bahwa membaca itu adalah suatu petualangan. Bahwa jika kamu seorang diri, buku dapat menjadi teman, mengubah dunia menjadi apapun yang kamu inginkan. Ia juga membawa saya pada dunia klasik pada akhir 1800 an dimana Charles Dickens dan Ernest Hemingway pada saat itu sedang menjadi penulis yang sangat terkenal. Dan membuat saya membaca karya karya penulis pada masa itu. Saya hanya terus membaca tanpa sadar, bahwa membaca buku-buku tersebut membuat saya menjadi manusia yang seperti sekarang.

Matilda memperluas minat saya pada buku klasik dan petualangan, lalu pada akhirnya buku petualangan menggugah keingintahuan saya terhadap buku non-fiksi. Mengapa? Karena, proses membaca teks yang awalnya menggugah saya membayangkan situasi dari dalam buku, membuat saya penasaran, seperti apa sih aslinya? Apa yang melatarbelakanginya? Dan seterusnya. Alhasil, saya kemudian tertarik pada buku-buku non fiksi, terutama buku dengan tema asal muasal bumi, sains dan sejarah.

Sampai akhirnya saya masuk ke dunia Arsitektur, yang pada awalnya dalam perspektif saya, Arsitektur hanya tentang desain dan bagaimana suatu bangunan terlihat menarik dan sesuai dengan fungsinya. Saya pikir pada saat itu, arsitek hanya dapat mendesain, merancang, dan membangun. Pada saat itu saya merasa tercemplung pada dunia Arsitektur, yang yang agaknya kurang diminati saya. Jujur saja, saya kurang menikmati mata kuliah desain, tetapi saya menikmati mata kuliah teorinya. Saya terus mencari posisi saya dan bertanya apakah saya sudah benar ada di bidang arsitektur? Ataukah saya harus menyerah di bidang ini? Saya sempat ingin menyerah saja dan berhenti. Namun saya terus mencari dengan motivasi orang tua saya. Pada akhirnya, saya menemukan saya berada dimana. Dan hal itu dimulai dengan membaca. Membaca tidak pernah membuat saya merasa kecewa.

Awalnya saya melihat website konsultan di dunia yang membuat jurnal seperti Perkins + Will. Saya membaca beberapa jurnalnya. Dimana para arsiteknya membuat jurnal dan bekerjasama dengan bidang lain, bukan hanya dengan bidang sipil, bahkan dengan biologi, kimia, hingga komputasi. Saya tertarik dan berfikir, ini bukan jamannya arsitek berjalan sendirian. Ketertarikan saya terhadap Arsitektur mulai muncul dan disitu titik baliknya. Sampai pada akhirnya, saya menemukan posisi saya dimana dan disinilah saya sekarang, di ITB, menemukan siapa saya dan apa keinginan saya. Saya tidak harus mendesain secara konkrit. Saya bisa menulis. Saya bisa mendesain melalui tulisan, dengan cara menjadi peneliti di bidang Arsitektur. Itu mungkin kelebihan saya dan saya bangga akan itu.

Saya mulai berfikir bahwa di bidang arsitektur seseorang perlu untuk menulis. Ini bukan lagi masa dimana arsitek hanya bergantung pada tacit knowledge, sehingga ilmu pengetahuan sangat dibutuhkan. Arsitek butuh teori, butuh rujukan, butuh ilmu pengetahuan untuk mendesain, dan salah satunya melalui tulisan. Arsitek perlu menulis dan harus terus menulis karena jaman terus berkembang. Manusia terus berkembang. Saya bisa menjadi poros penyeimbang para arsitek yang mendesain. Saya juga bisa menjadi peneliti yang membantu para arsitek mengembangkan desainnya. atau mungkin memberi masukan, memberi kritik dan sebagainya.

Dan sekarang, saya ingin berkontribusi dalam pengetahuan, melalui tulisan, mencetaknya menjadi sejarah yang akan dibaca oleh generasi yang akan datang. Karena, saya pikir kemajuan peradaban di masa akan datang dapat diperkirakan oleh seberapa baik kita membuat tulisan. Karena, tulisan itulah yang mungkin akan menjadi rujukan di masa depan. Dan arsitek adalah salah satu bidang yang membentuk peradaban tersebut. Maka, marilah kita menulis, atau mulailah dengan membaca.