Menyoal Penanganan Sampah di Bandung

Oleh : Andri Akbar, Alumnus Program Magister Studi Pembangunan ITB

ANDRI=Tantangan permasalahan sampah dari hari ke hari akan semakin kompleks untuk dapat dituntaskan. Kontinuitas pertambahan populasi penduduk dan juga semakin beragamnya pola hidup serta perilaku masyarakat merupakan faktor yang akan sangat berpengaruh terhadap kompleksitas tersebut. Hingga kini, sampah masih menjadi sesuatu yang akrab untuk dilihat sejauh mata kita memandang, entah dalam bentuk tumpukan atau berserakan begitu saja. Sayangnya pula, berbagai kebijakan terkait dengannya masih belum dapat menghadirkan solusi konkrit dalam upaya bagaimana mengatasi permasalahan sampah yang dihadapi.

Kota Bandung sebagai kota dengan perkembangan sangat pesat, tentunya tidak  luput dari berbagai tantangan permasalahan tersebut. Belum lagi jika melihat Kota Bandung sebagai kota tujuan wisata, dimana terutama sekali setiap akhir pekan atau hari libur, maka akan banyak para pendatang yang berkunjung ke kota Bandung, dan hal ini berarti akan semakin banyak pula sampah yang dihasilkan untuk per harinya. Oleh karena itu, dalam rangka mengatasi permasalahan sampah, pemerintah Kota Bandung merencanakan di tahun ini akan melakukan lelang teknologi biodigester yang diyakini dapat menjadi solusi dalam mengatasi  persoalan sampah di Kota Bandung.

Daya dukung

Tetapi tentunya dengan hanya melakukan lelang pengadaan saja tidak cukup, karena harus dilihat juga  daya dukung yang dibutuhkan apakah sudah dipersiapkan dengan sebaik mungkin dilapangannya, seperti infrastruktur dan manajemen pengelolaannya, termasuk juga bagaimana proses pembelajaran atau difusi pengetahuan mengenai teknologi biodigester. Hal ini menjadi penting untuk diperhatikan, karena terkait dengan sustainability (keberlanjutan) dari proyek yang dilakukan. Agar jangan sampai kemudian program yang ada menjadi mangkrak di tengah jalan, hanya karena ada beberapa daya dukung yang kurang cermat dalam persiapan sebelumnya, entah terkait ketersediaan suku cadang yang ternyata sulit diperoleh, atau para pekerja teknisi masih belum handal dalam memperbaiki mesin tersebut, atau mungkin perihal manajemen tata kelola yang masih simpang siur soal tugas dan tanggung jawabnya, sehingga ketika terjadi permasalahan, mereka hanya saling tuduh dan lepas tanggung jawab dalam upaya penyelesaiannya.

Kolektivitas

Terkait persolan sampah memang sudah seharusnya menjadi tanggung jawab bersama dalam rangka menuntaskannya, terutama dukungan dari masyarakat terhadap program penanganan sampah yang telah dicanangkan oleh pemerintah. Karena bagaimanapun juga, keterlibatan dan partisipasi  masyarakat dalam suatu program sangat penting untuk menjamin kesuksesan serta efektivitas pelaksanaannya dilapangan. Sehingga peran aktif setiap pemangku kebijakan harus menjadi simpul semangat bersama guna menghadirkan upaya solutif menyelesaikan permasalahan sampah yang sudah sejak lama masih menjadi persoalan ini.

Dalam Undang-Undang No 18 Tahun 2008 tentang pengelolaan sampah sebenarnya sudah dijelaskan mengenai perihal pentingnya untuk melakukan perubahan perilaku atau tata kelola terhadap sampah yang lebih berwawasan lingkungan dengan berfokus pada aktivitas pengurangan sampah dan juga penanganannya yaitu dengan 3R (reduce,reuse,recycle). Artinya bahwa, harus ada kesadaran kolektif dalam melakukan kegiatan  sehari-hari kita dengan mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan (reduce), serta dengan menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan (reuse), dan kegiatan untuk mendaur ulang sampah (recycle).

Mungkin kita bisa belajar dari bagaimana pengelolaan sampah yang ada di Kota Makasar. Dikutip dari situs resminya, sudah sejak tahun 2011 pemerintah kota Makasar mencanangkan gerakan bank sampah sebagai salah satu strategi penyelesaian sampah dengan melibatkan partisipasi masyarakat dalam upaya memilah sampah sejak dini, karena memang ada beberapa jenis sampah yang dihasilkan, sebenarnya dapat memiliki nilai tambah sebagai contoh sampah plastik dapat diolah menjadi bijih plastik yang kemudian dapat memiliki nilai komersial. Dan hingga kini, omset bank sampah di Kota Makasar sudah mencapai milyaran rupiah. Tidak hanya itu, program bank sampah ini juga sejatinya telah berhasil dalam memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat dan juga mampu membangkitkan partisipasi masyarakat guna mendukung program yang dicanangkan oleh pemerintah Kota Makasar dengan tingginya animo serta semangat masyarakat untuk menjadi nasabah dari bank sampah di sekitar lingkungan rumahnya.

Keberhasilan ini tentunya tidak lepas dari berbagai program yang telah dijalankan seperti, sampah tukar sampah, iuran sampah dibayar sampah, sampah ditukar dengan ice cream, pinjam uang dibayar atau dicicil dengan sampah, serta sampah ditukar dengan alat dapur dan alat rumah tangga. Dari berbagai program tersebut, pada akhirnya dapat menarik minat masyarakat untuk secara berbondong-bondong berpartisipasi dalam rangka melakukan pengurangan serta pemilahan sampah sejak dari awal, bahkan hal ini juga diikuti oleh beberapa sekolah dengan ikut terlibat dalam program ini. Para guru di sekolah tersebut secara aktif mengajak serta para muridnya untuk bersama-sama membuat bank sampah di sekolah dengan melakukan pemilahan sampah organik dan non organik. Pihak Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kota Makasar pun dengan sigap melakukan pendampingan kepada pihak sekolah yang hendak mendirikan bank sampah dengan  cara memberikan pelatihan dan pembinaan mengenai  manajemen dan tata kelola bank sampah yang baik dan efektif.

Dalam rangka mengatasi permasalahan sampah di Kota Bandung, maka harus ada perubahan paradigma berpikir tentang pengelolaan sampah yang dilakukan selama ini, dari cara konvesional berupa dikumpulkan, ditumpuk kemudian diangkut, menjadi cara solutif melalui kegiatan 3R seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Serta harus dapat membuat terobosan dengan program kreatif dan inovatif untuk menarik minat masyarakat secara aktif dalam mensukseskan program yang dicanangkan termasuk juga melakukan upaya pembinaannya. Teknologi biodigester yang dipilih oleh pemerintah Kota Bandung, sejatinya hanya menyentuh sisi hilir dalam hal mengatasi permasalahan sampah, sedangkan sisi hulunya, yaitu sejak bagaimana sampah dihasilkan dari rumah tangga harus juga dapat dilibatkan dalam rangka upaya penyelesaian permasalahan sampah, sehingga solusi yang dihadirkan dapat lebih baik lagi dan tentunya dalam rangka menyelamatkan lingkungan sekitar kita.