Artikel

Tidak Ada Kata Terlambat Untuk Mulai Membaca

Irfan Irwanuddin

Foto IrfanBagi saya, ketertarikan saya dengan dunia literasi bisa dibilang cukup terlambat. Minat membaca saya dimulai saat itu ketika baru saja lulus S1, dimana kuliah telah selesai dan arus input ilmu pengetahuan mulai mengendor. Di saat seperti ini lah rasa ingin tahu saya akan banyak hal mulai terpicu. Untuk mengisi kekosongan tersebut, akhirnya saya memutuskan membeli sebuah buku yang baru pertama kali ini benar-benar didasari oleh rasa ingin tahu dan tanpa paksaan. Buku itu adalah otobiografi Bung Karno yang cukup terkenal yang berjudul Penyambung Lidah Rakyat. Buku ini secara garis besar berisi sejarah naratif, curahan hati, pemikiran, ideologi, filsafat, kisah hidup, dan cerita-cerita perjuangan yang dituturkan oleh Bung Karno sendiri. Alhasil, karena saya membaca dengan rasa penasaran, rasa senang, dan tanpa paksaan, buku tersebut saya baca habis dalam satu malam saja.

Karena di dalam otobiografi Bung Karno tersebut disebutkan pula beberapa buku yang telah dilahap oleh Bung Karno, maka hal ini menjadi penuntun rasa penasaran saya pada buku-buku lainnya. Beberapa genre yang mulai saya cari saat itu berkisar antara otobiografi, biografi, sastra, filsafat, agama, sejarah, dan beberapa buku self-development.Hingga pada suatu saat, saya dan salah seorang teman yang juga memiliki minat terhadap buku terlibat dalam obrolan panjang mengenai dua buku sejarah yang berbeda. Dari obrolan tersebut ditemukan beberapa irisan sejarah yang bertentangan dan sifatnya saling memperkaya. Pikir saya, mungkin akan sangat menarik jika saya memperkayapemikiran dengan literatur lain yang dalam preasumsi saya saat itu mungkin bertentangan dengan prinsip pribadi saya. Jika pemikiran saya di ibaratkan dengan sebuah kolom, saya ingin mengguncang kolom tersebut dengan berbagai cara untuk memastikan bahwa kolom tersebut cukup kuat. Kira-kira seperti itulah motivasi saya dalam membaca beberapa genre buku.

Satu buku yang saya baca akan menuntun saya pada buku lainnya yang pada akhirnya tidak akan ada habisnya. Namun dalam proses yang berjalan hingga saat ini, saya merasakan sebuah paradoks yang diakibatkan dari membaca. Di satu sisi, jika dibandingkan dengan saat belum memiliki minat baca, persepektif saya lebih terbuka akibat dari pandangan kritis yang dibangun dari membaca, namun di sisi lain pandangan kritis tersebut sedikit menghambat saya dalam mengungkapsesuatu karenasemakin banyaknya pertimbangan berbagai perspektif tersebut. Bagi saya, masing-masing buku mengasah kemampuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, karya sastra mampu mengasah empati, buku sejarah mengasah pola pikir kritis, otobiografi membangkitkan semangat, filsafat memperdalam pemikiran, agama memperdalam spiritual dan kemanusiaan, dan seterusnya.

Dari manfaat yang saya rasakan, timbul rasa penasaran lainnya yang menuntun saya untuk memperhatikan bagaimana pesan-pesan dalam tulisan di buku-buku tersebut mampu sampai pada pembaca. Saya berpikir bahwa makna adalah apa yang ingin disampaikan dari penulis, dan tulisan hanyalah salah satu media dalam menyampaikan makna tersebut. Sehingga inti dari buku adalah makna yang sampai pada pembaca tersebut. Dari sini saya baru dapat mengamati bahwa karakter seseorang pun dapat dilihat melalui gaya penulisannya. Betapa besar dampak dari kata-kata dalam tulisan. Lalu, saya mulai tertarik dengan bagaimana alur tulisan dirancang, bagaimana sebuah paragraf terstruktur, bagaimana kalimat tersusun, danbagaimana diksi dipilihuntuk menyampaikan sebuah makna yang spesifik. Dan dari situlah saya mulai tertarik pada menulis. Saya ingin belajar bagaimana cara mengungkapkan pemikiran saya dengan baik melalui menulis. Selebihnya, saya ingin memberikan pengaruh baik melalui menulis.

Di semester lalu, terdapat satu mata kuliah yang secara langsung mengharuskan saya menulis sebuah artikel yang pada akhirnya harus di publikasi dalam sebuah kegiatan temu ilmiah. Bagi saya, kesempatan ini adalah saat yang tepat untuk menguji kemampuan saya dalam menulis. Dan berbekal bimbingan dari Pak Hanson dan Pak Aswin, sebuah karya tulis berhasil saya susun dan terpublikasi. Dari pengalaman ini, saya merasakan bagaimana proses merancang sebuah tulisan yang baik dan benar. Berbekal data yang valid dan tinjauan pustaka yang saya kumpulkan melalui proses membaca, membuat artikel yang disusun menjadi lebih tertata. Dan yang terpenting, makna yang disampaikan mudah dipahami oleh pembaca. Berdasarkan pengalaman ini, yang terpenting dari proses menulis adalah pematangan konsep dan tujuan dari tulisan tersebut, sebab begitu sebuah konsep dan tujuan sudah sangat jelas, maka proses penulisan akan lebih mudah karena jalur dalam menulis telah ditentukan dari awal. Dan yang saya rasakan dari pengalaman ini, semakin kita banyak membaca, maka akan semakin tajam pula tulisan yang akan kita buat.

Dari rasa penasaran akan pengetahuan, menuntun saya pada buku pertama. Melalui buku tersebut, muncul rasa penasaran terhadap buku-buku lainnya. Dari buku-buku tersebut tergugah lah pemikiran saya. Dan pemikiran tersebut, menuntun saya untuk mulai menaruh perhatian pada kegiatan menulis. Motivasi saya dalam menumbuhkan minat baca lebih dominan dari faktor internal. Sejak kecil pun, saya tidak berada di lingkungan yang suka membaca, terlebih memaksa saya untuk membaca. Suatu saat saya pernah melihat satu panel desain arsitektur yang menjadi juara dalam sebuah sayembara. Dalam konsep perancangan yang ia jabarkan di panel tersebut, terdapat landasan-landasan yang kuat danresearch-based, yang tentunya hal ini tidak mungkin datang begitu saja tanpa proses ‘membaca’ yang kritis. Saya berpikir, seandainya saya memulai minat baca saya lebih awal, bisa saja proses saya dalam berarsitektur ketika kuliah dulu akan berbeda sama sekali. Namun pada akhirnya, bagi saya tidak boleh ada kata terlambat untuk memulai budaya membaca, karena yang terpenting bukanlah kapan kita memulaibudaya membaca tetapi sejauh apa kita mampu menjaga budayatersebut.